• Opini EkSys : Kebijakan Pemerintah Dorong Subsidi Untuk Jaga Harga Minyak Goreng

     

     

        Harga minyak goreng mulai melejit sejak akhir tahun 2021 dan berlanjut hingga tahun 2022. Oleh karena itu pemerintah menetapkan kebijakan satu harga yakni HET (Harga Eceran Tertinggi) untuk minyak goreng kemasan per liter adalah Rp 14.000 baik di swalayan dan di pasar tradisional seminggu setelahnya. 

        Dalam perjalanan kebijakan tersebut, minyak goreng justru menjadi langka dan banyak oknum-oknum yang menjualnya diatas HET guna memperoleh keuntungan pribadi. Masyarakat juga banyak yang terkena panic buying hingga menimbun minyak goreng karena takut akan terjadi kelangkaan.

        Akhirnya pada 13 Maret 2022 pemerintah mencabut kebijakan HET untuk minyak goreng kemasan dan menggantikannya dengan kebijakan subsidi minyak goreng curah dengan harga seperti kebijakan sebelumnya pada minyak goreng kemasan yaitu Rp 14.000 per liter, sementara harga minyak goreng kemasan menyesuaikan dengan mekanisme pasar. Sebenarnya, dengan adanya subsidi ini, harga minyak goreng curah mengalami kenaikan dari yang semula Rp 11.500 menjadi Rp 14.000.

        

        Dikutip dari kabar24.bisnis.com pada Sabtu (19/3/2022) Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden RI Edy Priyono mengatakan, “Pemerintah di satu sisi sangat peduli terhadap kebutuhan masyarakat, tapi di sisi lain pemerintah menyadari industri ini harus berjalan terus. Jadi bapak Presiden ingin menjaga keseimbangan ini, yakni menjaga kepentingan masyarakat dan produsen.”

        Dia mengaku, pelaksanaan kebijakan baru terkait minyak goreng tersebut tidak mudah. Hal ini lantaran, pemerintah juga harus memastikan ketersediaan pasokan minyak goreng curah agar tidak terjadi kelangkaan di pasaran.


        Terlebih, kata dia, dengan keluarnya kebijakan tersebut, akan membuka peluang pengguna minyak goreng kemasan beralih ke curah. Lebih lanjut, kata dia, potensi terjadinya kebocoran pada distribusi juga akan semakin besar. Hal itu, membutuhkan pengawasan yang lebih maksimal, agar pemberian subsidi atas minyak goreng curah bisa tepat sasaran.

        Menurut sudut pandang penulis, kebijakan subsidi minyak goreng curah justru akan membuat pengawasannya kurang efektif dan lebih sulit karena minyak goreng curah tidak memiliki kode produksi yang jelas sehingga kemungkinan kecurangan yang dapat dilakukan oleh oknum tidak bertanggung jawab akan lebih besar misalnya dengan mengoplos minyak goreng curah dengan minyak jelantah. Lalu untuk batasan sendiri, seperti yang diamati pada pasar tiap orang dapat membeli beberapa liter sekaligus dalam jeriken yang cukup besar, apakah hal tersebut bukannya malah memperbesar konsumsi masyarakat dan ketika ketersediaan stoknya tidak memumpuni tetap akan terjadi kelangkaan?

        Kebijakan HET untuk minyak goreng kemasan seharusnya lebih mudah diawasi dengan pemberian tanda produksi tersendiri pada kemasan di setiap merek yang beredar di pasaran sebagai ciri bahwa minyak goreng kemasan tersebut diperuntukkan untuk memenuhi kebijakan HET pemerintah sehingga oknum-oknum yang tidak bertanggung jawab juga lebih mudah untuk dilacak.

        Dalam perspektif islam, peran pemerintah dalam penetapan harga adalah sebagai stake holder tertinggi yang dapat memberikan regulasi yang jelas untuk mewujudkan kestabilan pasar dengan menetapkan kebijakan-kebijakan yang strategis agar terwujud keadilan dan kemakmuran rakyat.

        Adanya penimbun dan intervensi harga yang keliru dapat menyebabkan distorsi pasar bagi perekonomian karena dalam kebijakan penetapan harga di bawah harga pasar seperti yang dilakukan pemerintah terhadap harga minyak goreng dapat memunculkan terjadinya kelebihan permintaan sebab konsmen ingin bisa membeli dengan harga lebih murah daripada biasanya. Namun bagi produsen, mungkin harga tersebut kurang menguntungkan sehingga mereka enggan melepaskan produknya ke pasaran dan bisa saja cenderung menjual produknya ke pasar lain (black market) yang dapat memberikan harga lebih tinggi. 


    Penulis : Shinta Dwi Nur Anggraini

  • 0 komentar:

    Posting Komentar