• KISMIS (Kajian Literasi Ekonomi Islam) 2


            Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan kegiatan KISMIS (Kajian Ekonomi Islam) yang ke 2. Kegiatan yang diselenggarakan pada Sabtu, 25 September 2021 ini mengangkat tema “Strategi Meningkatkan Sadar Zakat, Infaq, Shadaqah, dan Wakaf Menuju Pemberdayaan Perekonomian Umat”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring via Zoom Meeting pada pukul 09.00 WIB. KISMIS 2 merupakan kegiatan diskusi mengenai Kajian ekonomi secara syariah yang dihadiri oleh umum. Pemateri pada diskusi kali ini adalah Bapak Husain Yatmono yang merupakan Manajer Area BWA Pantura Jatim dan Bapak Helmy Bachtiar yang merupakan Kepala Perwakilan IZI Jatim. Serta dimoderatori oleh Kak Ibnu Affan, yang merupakan demisioner KSEI EkSys FEB UNESA.

        Pada KISMIS 2 ini terdapat dua materi, materi yang pertama disampaikan oleh Bapak Husain Yatmono tentang Wakaf Gaya Hidup Muslim (Waqaf Modern Muslim Lifestyle) dan materi yang kedua disampaikan oleh Bapak Helmy Bachtiar tentang Outlook Zakat Indonesia 2021 dan Manajemen Pemberdayaan Dana Zakat.

        Materi pertama tentang Wakaf Gaya Hidup Muslim. Seperti yang kita ketahui, wakaf dalam islam telah menjadi pendukung lahirnya sebuah perabadan negara yang memberikan kesejahteraan bagi warganya. Bagian dari sedekah, hanya pada wakaf yang diambil manfaatnya saja tanpa melenyapkan harta wakafnya. Disebut sedekah jariyah karena manfaatnya terus. Wakaf di Indonesia memiliki potensi yang sangat luas dan beragam untuk pemberdayaan umat yang berkelanjutan. Indonesia menduduki peringkat pertama sebagai Negara paling dermawan di dunia menurut Charites Aid Foundation (CAF) World Giving Index 2021. Maka dari situlah perlu edukasi kepada seluruh umat manusia agar menjadikan wakaf sebagai gaya hidup mereka.

        Materi kedua tentang Outlook Zakat Indonesia 2021 dan Manajemen Pemberdayaan Dana Zakat. Potensi zakat di Indonesia hasil perhitungan baznas mencapai 327 triliun atau hampir 10% dari nilai APBN RI. Padahal zakat terhimpun melalui lembaga resmi baru mencapai 1,2% saja. Jika zakat bisa disalurkan untuk zakat produktif, maka kemandirian ekonomi bisa dibangkitkan sehingga zakat dapat membantu pemerintah dalam mengentaskan kemiskinan”.

        Kemudian muncul pertanyaan: faktor-faktor apa saja yg muncul selain literasi dari gap antara potensi dan realisasi baik zakat maupun wakaf ? dan apakah kedua potensi ziswaf dan ekonomi masjid dalam kaitannya pemberdayaan umat dapat diintegrasikan / disinergikan untuk bisa menghasilkan intelektual yang maksimal dari kedua potensi tersebut ?

        Bapak Helmy mengatakan bahwa terkait dengan adanya gap yang besar antara potensi dan realisasi, untuk di lembaga zakat sendiri penyebabnya ada 4 yang pertama adalah berkaitan dengan level kebijakan tentang tata kelola zakat, salah satunya dari pengurang pendapatan kena pajak. Kemudian adanya perubahan-perubahan pada kondisi tertentu, kurangnya kesadaran dari masyarakat yang masih rendah, serta berkaitan pula dengan beberapa regulasi dari beberapa negara. Yang kedua berkaitan dengan kepanitiaan lembaga atau sumberdaya yang terbatas. Yang ketiga berkaitan dengan program-progam dari lembaga. Yang keempat adalah kendala performa internal lembaga

        Bapak Husain juga menambahkan terkait dengan adanya gap yang besar antara potensi dan realisasi, untuk di lembaga zakat sendiri penyebabnya ada 4 yang pertama adalah berkaitan dengan level kebijakan tentang tata kelola zakat, salah satunya dari pengurang pendapatan kena pajak. Kemudian adanya perubahan-perubahan pada kondisi tertentu, kurangnya kesadaran dari masyarakat yang masih rendah, serta berkaitan pula dengan beberapa regulasi dari beberapa negara. Yang kedua berkaitan dengan kepanitiaan lembaga atau sumberdaya yang terbatas. Yang ketiga berkaitan dengan program-progam dari lembaga. Yang keempat adalah kendala performa internal lembaga .

        Maka kesimpulan yang dapat kita ambil adalah wakaf adalah penahanan sejumlah kekayaan yang dapat dimanfaatkan serta tetap utuh wujudnya yang akan dialokasikan pada kegiatan yang hukmunya mubah dan telah ada. Wakaf juga bermaksud untuk memisahkan atau menyerahkan sebagian harta benda miliknya untuk dimanfaatkan selamanya atau untuk jangka waktu tertentu sesuai dengan kepentingannya guna untuk keperluan ibadah atau kesejahteraan umum menurut syariah. Harta wakaf tidak boleh berkurang nilainya, tidak boleh dijual dan tidak boleh diwariskan. Karena wakaf pada hakikatnya adalah menyerahkan kepemilikan harta manusia menjadi milik allah atas nama ummat 

  • 0 komentar:

    Posting Komentar