• MIRACLE 5 Ksei EkSys



        Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomika dan Bisnis Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan kegiatan Miracle (Sharia Economic Learning Circle) yang dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Miracle kali ini (Sabtu, 24 Juli 2021) merupakan kegiatan Miracle yang kelima pada periode 2021 dengan tema “Aset Kripto dalam Pandangan Ekonomi Islam” kegiatan ini dilaksanakan secara daring via google meet pada pukul 09.00-11.00 WIB. Berbeda dengan Miracle sebelumnya, kali ini dilakukan dengan metode diskusi tiap kelompok yang telah dibagi sebelumnya. Dalam kelompok tersebut tidak ada tim pro maupun kontra sebagaimana sebelumnya, tetapi setiap anggota kelompok dapat menyampaikan opininya masing-masing.

        Seperti yang kita ketahui bahwa Cryptocurrency merupakan mata uang digital yang diperdagangkan secara terdesentralisasi yang bisa diterima oleh perusahaan yang tergabung didalamnya. Mata uang kripto atau crypto currency adalah mata uang yang tidak disentralisasi oleh bank. Mata uang ini dibuat menggunakan teknologi enkripsi komputer yang terekam dalam platform blockchain. Mata Uang Kripto merupakan mata uang virtual atau digital yang dipakai untuk bertransaksi secara virtual. Biasanya, transaksi menggunakan uang kripto ini dilakukan melalui jaringan internet. Aset cripto merupakan hal baru dan perlu adanya kewaspadaan apalagi minimnya regulasi yang dapat menimbulkan penyalahgunaan. Di Indonesia sendiri, perdagangan mata uang kripto dilegalkan dalam Peraturan Bappebti Nomor 5 Tahun 2019 tentang Ketentuan Teknis Penyelenggaraan Pasar Fisik Aset Kripto di Bursa Berjangka. Meski begitu, regulasi yang masih baru ini tetap bisa menimbulkan risiko bagi nasabah mata uang kripto.


        Diskusi kali ini menghasilkan 2 opini yang saling melengkapi, yakni dalam pandangan Islam mata uang harus memiliki zat materi yang bisa disentuh sangat berpeluang besar terjadinya penipuan, dapat disimpan dalam waktu yang lama sedangkan yang mempunyai cryptocurrency akan dijual sesuai dengan keputusan yang mempunyai aset ini, memiliki asas manfaat sedangkan dalam cryptocurrency dapat merusak perbankan kapitalis, melarang adanya unsur gharar yang dapat merugikan orang lain. 

        Kemudian menurut beberapa ulama berpendapat dan “Mayoritas melarang karena aset kripto itu sesuatu yang gharar, tidak jelas dan tidak pasti dan Juga sangat potensial menjadi ajang spekulasi (maysir atau qimar)." Berdasarkan dua pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa asset kripto tidak diperbolehkan dalam praktik ekonomi islam. Sehingga dapat menerapkan kaidah Menolak Kerusakan lebih utama daripada menarik kemaslahatan sehingga untuk saat ini harus menerapkan kehati-hatian atau menghindari terlebih dahulu jika tidak terlalu penting. Maka dapat disimpulkan bahwa cryptocurrency haram untuk tetap di jalankan dan masih tabu dikalangan masyarakat. Sehingga cryptocurrency sebaiknya dihindari, karena lebih banyak mudharatnya.

     

  • 0 komentar:

    Posting Komentar