• Opini EkSys: Program Vaksinasi Bikin Pede

        TAHUN 2021 menjadi momen penting bagi dunia dan Indonesia dalam upaya menanggulangi pandemi Covid-19. Sejumlah negara di dunia telah memulai program vaksinasi sebagai upaya menghentikan pandemi, tak terkecuali Indonesia. Presiden RI Joko Widodo merupakan orang pertama yang melaksanakan program vaksin ini, pada 13 Januari 2021 lalu.

        Dilansir JawaPos.com sedikitnya 181,5 juta orang Indonesia akan mengikuti program vaksinasi Covid-19. Jumlah itu diambil 70 persen dari total penduduk yang berjumlah 269,6 juta jiwa dikurangi penduduk yang berisiko tinggi.
        Menurut penulis, upaya pemulihan ekonomi yang kini ditempuh pemerintah sangat berkaitan erat dengan program vaksinasi Covid-19. Selama pandemi, sisi permintaan dan penawaran berjalan terpisah. Pembatasan aktivitas dan kegiatan ekonomi memberi pengaruh pada produksi dan distribusi. Di sisi lain, konsumsi masyarakat kelas bawah  turun signifikan sedangkan kelas menengah serta kelas atas banyak menahan konsumsi. Kehadiran vaksin dan program vaksinasi akan memberikan ekspektasi pada pemulihan ekonomi. Sisi permintaan dan penawaran akan bertemu kembali jika program vaksinasi sukses dan berjalan dengan baik. Bagi perekonomian Indonesia, program vaksinasi juga akan mendorong pemulihan konsumsi rumah tangga, investasi, dan pertumbuhan ekonomi. Masyarakat kelas atas dan kelas menengah yang banyak menjadi pebisnis atau investor juga sangat berperan dalam pembentukan modal tetap bruto (PMTB).
        Terdapat tiga langkah dan strategi pemulihan ekonomi yang perlu ditempuh secara paralel dengan pelaksanaan program vaksinasi untuk mempercepat pemulihan ekonomi nasional.
    Pertama, meningkatkan konsumsi pada masyarakat kelompok bawah dan menengah. Kita ketahui bersama, peran konsumsi rumah tangga dan lembaga nonprofit rumah tangga terhadap produk domestik bruto (PDB) nasional sangat besar, yaitu 58,60 persen. Fakta empiris menunjukkan, berbagai program perlindungan sosial dan bantuan sosial dari pemerintah mampu menjaga konsumsi masyarakat yang anjlok pada kuartal III 2020 hingga negatif 2,17 persen. Pendek kata, program perlindungan sosial untuk 2021 nilainya minimal harus sama atau lebih besar daripada nilai di 2020.
        Pada APBN 2021 pemerintah menetapkan anggaran program perlindungan sosial Rp 260,1 triliun atau 13,3 persen. Kami mengusulkan agar nilainya ditingkatkan dengan mengurangi belanja bidang ekonomi dan bidang pelayanan umum sehingga anggaran perlindungan sosial menjadi Rp 322 triliun lebih atau di atas 17,5 persen. Upaya tersebut akan sangat signifikan untuk mendorong pemulihan ekonomi masyarakat lewat sisi konsumsi.
        Kedua, membangun ekonomi digital, utamanya di UMKM yang memberikan kontribusi 60,4 persen terhadap PDB nasional. Pemberlakuan PSBB dan protokol penanganan pandemi Covid-19 yang membatasi aktivitas fisik menurunkan kinerja UMKM.
        Ketiga, peningkatan investasi dengan kemudahan lewat Lembaga Pengelola Investasi (LPI), seperti yang diatur dalam PP 74/2020. Program vaksinasi di berbagai negara yang sedang berlangsung akan memberikan kepastian pemulihan ekonomi dan mendorong pertumbuhan ekonomi global akan pulih atau positif.
    Namun, benarkah program dari pemerintah ini diyakin sudah tepat?
    Melihat angka Covid-19 yang terus bertambah, sebagaimana yang dilansir dalam KOMPAS.com - Pandemi Covid-19 belum kunjung berakhir di Indonesia. Hal ini terlihat dari kasus harian Covid-19 dan angka kematian yang masih terus bertambah. Berdasarkan data yang dihimpun pemerintah, hingga Jumat (9/4/2021) pukul 12.00 WIB menunjukkan, ada penambahan 5.265 kasus baru Covid-19 dalam 24 jam terakhir.
        Tidak hanya itu, masyarakat yang sudah atau belum menjalani vaksin tetap harus mematuhi protokol kesehatan yang ada. Sehingga meskipun telah melakukan suntikan vaksin, orang tersebut tetap harus membatasi kegiatannya dan menjaga protokol kesehatan sebagaimana orang yang belum diberi vaksin.
    Lalu, dimana letak perbedaan sebelum dan sesudah ada program vaksinasi? Jika angka pertumbuhan positif Covid-19 terus bertambah.

     

     

    Penulis: Cantik Siska Anggraeni

  • 0 komentar:

    Posting Komentar