• ISRESSION (Islamic Enterpreneur Discussion)


     

        Kelompok Studi Ekonomi Islam Fakultas Ekonomi Universitas Negeri Surabaya menyelenggarakan kegiatan ISRESSION (Islamic Enterpreneur Discussion) Part 1. Kegiatan yang di selenggarakan pada Sabtu 24 April 2021 ini mengangkat tema “Membentuk Jiwa Wirausaha Berbasis Syariah Dikalangan Milenial”. Kegiatan ini dilaksanakan secara daring via Zoom pada pukul 08.00 - 11.10 WIB. ISRESSION merupakan kegiatan diskusi mengenai kewirausaahaan secara syariah yang dihadiri internal KSEI. Pemateri pada diskusi kali ini adalah kak Andy Fachruddin yang merupakan demisioner KSEI Eksys FEB UNESA 2019 dan dimoderatori oleh kak Nana Sofiana yang juga merupakan demisioner KSEI Eksys FEB UNESA 2020.

                Secara umum Entrepreneurship atau yang lebih dikenal dengan kewirausahaan merupakan proses kegiatan kreativitas dan inovasi dalam menciptakan perubahan dengan memanfaatkan peluang dan sumber-sumber yang ada untuk menghasilkan nilai tambah bagi diri sendiri dan orang lain serta memenangkan persaingan. Terdapat perbedaan antara perusaha dan entrepreneur, dimana seorang entrepreneur memiliki pandangan kedepan dan bisa melihat peluang yang ada sementara pengusaha hanya memikirkan keuntungan dan penjualaan saat ini. Sehingga seorang pengusaha harus memiliki jiwa entrepreneur guna menunjang pengembangan usahanya.

                Enterpreneur dalam islam yaitu segala usaha aktivitas bisnis yang diusahakan secara perniagaan dalam rangka memproduksi suatu barang atau jasa dengan jalan tidak bertentangan dengan syariat. Entrepreneur syariah mengutamakan sifat Shiddiq, Tabligh, Amanah dan Fathanah. Menjawab tantangan di era pandemi saat ini, penerapan ekonomi syariah menjadi solusi dari keterpurukan ekonomi. Sebagaimana perintah Allah dan ajaran rasulullah, kita perlu merangkul lingkungan sekitar dan menjaga kebersamaan. Dengan menerapkan ekonomi syariah kita dapat meningkatkan kesejahteraan hidup dunia maupun akhirat.

                Meneladani kisah salah satu sahabat nabi yakni Abdurahman bin Auf dalam menjalankan bisnis. Beliau memulai usahanya tanpa modal sepeserpun. Bisnisnya bermula dari keteguhan hatinya dalam menerapkan sifat shiddiq, tablik, amanah, fathanah. Strategi beliau dalam membangun bisnisnya adalah tidak mengutamakan keuntungan yang besar, melainkan keuntungan sedikit namun volumenya besar dan bisa jalan terus menerus. Selain itu selama berbisnis beliau menggunakan penjualan secara tunai guna mempercepat perputaran uang dan kestabilan usahanya, namun tidak menutup kemungkinan jika saat ini kita bisa melakukan transaksi secara non tunai dengan tetap menjaga syariat dan menjauhi hal hal yang membawa mudhorot seperti kredit, riba dan lain sebagainya. Abdurahman bin Auf memiliki integritas dan kemampuan bernegosisi dengan baik, selain itu kemampuannya dalam menganalisa pasar inilah yang menjadi modal usahanya. Modal tersebut ditunjang dengan prinsipnya yang bekerja untuk keberkahan dan selalu menjual barang yang berkualitas.

                Dalam meneladani kisah dari salah satu sahabat rasulullah tersebut kita bisa menyesuaikan dengan era milenial dan digitalisasi saat ini. Seperti pada konsep yang memilih penjualan secara tunai, kita boleh saja menggunakan penjualan online namun kita tidak boleh hanya bergantung pada satu pemasukan tersebut. Sehingga kita perlu memiliki pendapatan yang tunai sebagai perputaran uang. Sejatinya akan selalu ada kendala dalam setiap usaha, namun semua bergantung pada minset kita miliki. Jangan mudah menyerah berusahlah untuk menyelesikan masalah dengan mengevaluasi terlebih dahulu, mengatur setiap waktu supaya efisien, mengelola setiap keuangan dan perlu kita ingat bahwa meneladani strategi Abdurahman bin Auf juga perlu diiringi dengan doa. Sebab kita bisa berpikir solusi dari setiap masalah namun semua hasilnya kembali pada Allah SWT.

    “Keuntungan hanya efek samping, yang utama ialah keberlanjutan-kebermanfaatan-kesejahteraan.

  • 0 komentar:

    Posting Komentar