• Diskusi Fiqh Muamalah, Optimalisasi Peran Ziswaf

     


    KSEI EkSys kembali gelar FASSION (Fiqh Muamalah Discussion). Jumat, 4 September 2020. Dengan mengusung tema "Optimalisasi Peran ZISWAF dalam Mengembangkan Perekonomian Bangsa". Bapak Moch Rofi'i Boenawi, S.Pd.I., M.Ag yang merupakan Sekretaris NU Care Lazisnu Jatim selaku pemateri pada diskusi kali ini dan Dwi Maulidiyah merupakan Mahasiswi Ekonomi UNESA sebagai moderator. Acara ini berlangsung melalui Google Meet dan dimulai sekitar pukul 15.30-17.30.

    Berikut merupakan notulensi hasil diskusi:

    Sebuah negara atau bangsa harus melakukan 2 hal ini : beribadah dengan tuhannya dan hubungan sosial harus dioptimalkan. Optimalisasi peran ziswaf tidak luput dari kita semua sebagai warga negara Indonesia harus mengetahui dan paham dengan kondisi negara kita. Indonesia memiliki keberagaman agama sehingga dalam kurang dalam mengoptimalkan zis atau wakaf, tidak seperti negara timur tengah. Indonesia menerapakan pajak bangunan, dll. Tetapi indonesia belum sedikitpun optimal. Baznas didirikan tahun 2001 sedangan badan wakaf indonesia didirikan tahun 2007. Kedua badan ini merupakan cara pemerintah dalam mengoptimalkan dalam perekonomian bangsa. Berikut implikasi zakat.

    1. Implikasi Zakat
    - Memenuhi kebutuhan masyarakat yang kekurangan.
    - Memperkecil jurang kesenjangan ekonomi.
    - Menekan jumlah permasalahan sosial; kriminalitas, pelacuran, gelandangan, pengemis dan lain-lain.
    - Menjaga kemampuan beli masyarakat agar dapat memelihara sektor usaha. Dengan kata lain zakat menjaga konsumsi masyarakat pada tingkat yang minimal, sehingga perekonomian dapat terus berjalan.

    2. Implikasi Ekonomi Zakat
    - Konteks sosial-ekonomi : Institusi zakat memiliki berbagai implikasi ekonomi penting baik di tingkat mikro maupun makro. 
    - Pada tingkat mikro : Zakat memiliki implikasi ekonomi terhadap perilaku konsumsi dan tabungan individu serta perilaku produksi dan investasi perusahaan tanpa berpengaruh negatif pada insentif bekerja.
    - Pada tingkat makro : Zakat memiliki implikasi ekonomi terhadap efisiensi alokatif, penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan ekonomi, stabilitas makro ekonomi, distribusi pendapatan, pengentasan kemiskinan dan jaring pengaman sosial.

    3. Zakat dan Konsumsi
    - Kelompok masyarakat wajib zakat (muzakki) dengan mentransfer sejumlah proporsi pendapatan kepada kelompok masyarakat penerima zakat (mustahiq). Hal ini secara jelas akan membuat pendapatan disposabel (disposable income) mustahiq meningkat. Peningkatan pendapatan disposabel akan meningkatkan konsumsi dan sekaligus mengizinkan mustahiq untuk mulai membentuk tabungan. Dalam jangka panjang, transfer zakat akan membuat ekspektasi pendapatan dan tingkat kekayaan mustahiq meningkat yang pada gilirannya membuat konsumsi mereka menjadi lebih tinggi lagi.
    - Tingkat konsumsi agregat dalam perekonomian Islam akan lebih tinggi karena kecenderungan marjinal untuk berkonsumsi (marginal propensity to consume/MPC) dan kecenderungan rata-rata untuk berkonsumsi (average propensity to consume/APC) perekonomian Islam lebih tinggi dibandingkan perekonomian konvensional.
    - Argumen-nya sangat sederhana yaitu dengan mengasumsikan bahwa MPC mustahiq adalah jauh lebih tinggi dibandingkan dengan MPC muzakki. Jika kita mentransfer sejumlah proporsi pendapatan dari kelompok dengan MPC rendah ke kelompok dengan MPC tinggi, maka secara alamiah dampak bersihnya adalah positif yaitu MPC akan lebih tinggi. Lebih jauh lagi, APC kelompok miskin adalah lebih tinggi dari APC kelompok kaya. Sehingga transfer dari kelompok kaya ke kelompok miskin akan meningkatkan APC agregat perekonomian. Dengan demikian, tingkat konsumsi agregat perekonomian Islam akan lebih tinggi dari perekonomian konvensional yang berasal dari kenaikan konsumsi kelompok miskin.[2]
    - MPC didefinisikan sebagai kenaikan konsumsi akibat kenaikan satu unit pendapatan dan APC didefinisikan sebagai proporsi konsumsi terhadap pendapatan. Secara aljabar, jika Y=pendapatan dan C=konsumsi, maka APC=C/Y dan MPC=dC/dY. Teori ekonomi mempostulatkan bahwa MPC lebih besar dari nol dan lebih kecil dari satu, sedangkan APC menurun seiring kenaikan pendapatan.
    - Seiring kenaikan pendapatan, maka pola konsumsi seseorang akan bergeser dari barang dan jasa kebutuhan pokok ke barang dan jasa non-primer.
    - Dapat meningkatkan kuantitas konsumsi, penerapan zakat juga akan meningkatkan kualitas konsumsi perekonomian.

    4. Zakat terhadap Produksi
    Adalah zakat yang mengajarkan cara berdagang
    - Diasumsikan bahwa golongan muzakki bekerja sebagai produsen, maka manfaat zakat akan dirasakan melalui tingkat konsumsi yang terus terjaga.
    - Zakat adalah sistem pajak yang ramah terhadap dunia usaha (market friendly). Zakat memiliki tarif yang rendah dan tetap serta tidak pernah berubah-ubah karena sudah diatur dalam syariat.
    - Zakat juga memiliki tarif berbeda untuk jenis harta yang berbeda, dan mengizinkan keringanan bagi usaha yang memiliki tingkat kesulitan produksi lebih tinggi.
    - Terdapat riwayat bahwa Khalifah Umar ibn Al-Khattab pernah menunda penarikan zakat. Khalifah Umar kemudian menarik dua zakat kepada pemilik ternak di tahun berikutnya secara penuh.
    - Sebagai instrumen fiskal, zakat memberi insentif untuk kemajuan dunia usaha, sehingga menaikkan output dan menurunkan harga.
    - Bentuk intervensi pasar, zakat adalah instrumen yang memiliki distorsi pasar yang minimal.
    - Dalam ekonomi konvensional, dimana yang berlaku adalah pajak penjualan atau pajak pertambahan nilai/PPN (value-added tax).

    5. Zakat dan Wakaf
    - Fungsi sosialnya, wakaf bisa menjadi jalan bagi pemerataan kesejahteraan di kalangan umat, serta penanggulangan kemiskinan di suatu negara jika terkelola dengan baik.
    - Fungsi wakaf sebagai ibadah dapat mengalirkan pahala terus menerus selama harta wakaf itu dimanfaatkan. Para ulama berpendapat bahwa hukum berwakaf itu merupakan anjuran agama. Selain wakaf, ada beberapa hal yang dapat kita lakukan untuk beribadah dan mengelola harta, yaitu zakat, infak, dan sedekah.
    - Perbedaan zakat dengan wakaf adalah, zakat memiliki syarat dalam jumlah tertentu. Zakat disesuaikan dengan kadar harta yang dimiliki, dan akan diberikan kepada  mustahiq atau orang-orang yang wajib menerima zakat. Zakat merupakan salah satu rukun islam, jadi menunaikan atau membayar zakat adalah wajib hukumnya.

    6. Wakaf di Mancanegara
    - Di Malaysia telah membangun bangunan yang dikenal dengan Menara Imara Wakaf seluas 52.838 m2.
    - Di Turki, wakaf uang di Bursa daerah Orhan Gazi. Namun, sitem pengembangan wakaf uang pada saat itu dikelola dengan cara bunga. Sehingga praktik wakaf uang di Turki banyak menjadi perdebatan di kalangan masyarakat Muslim.

    7. Potensi Wakaf di Indonesia
    - Potensi tanah wakaf di Indonesia tergolong sangat besar, karena jumlah penduduk di Indonesia mayoritas muslim.
    - Wakaf harus berupa barang, jika wakaf uang harus dibuat bagunan seperti pondok pesantren, bangunan pendidikan, dll
    - Dalam membantu mempercepat pembangunan infrastuktur, diperlukan wakaf tunai(wakaf uang) yang dikelola secara produktif. Sehingga dapat meningkatkan percepatan pembangunan, meningkatkan stuktur sosial dan berperan aktif dalam sektor kesehatan, pendidikan, investasi pelayanan publik serta mengambil alih anggaran investasi pemerintah sehingga memperkuat keuangan negara
    - Wakaf uang tersebut sifatnya fleksibel sehingga lebih mudah untuk diterapkan ke hal-hal yang sifatya produktif seperti pembangunan jalan tol, membangun gedung ataupun lapangan sepakbola untuk disewakan, perbaikan di bidang pertanian dan perikanan ataupun rumah sakit milik pemerintahan. Dari proyek-proyek tersebut tentunya akan menghasilkan keuntungan yang sangat banyak apabila mampu dikekola dengan baik

    8. Zakat dan Investasi
    - Institusi zakat memiliki dampak positif pada investasi dengan mempenalti penumpukan dana, sumber daya yang menganggur dan penggunaan sumber daya di aset yang tidak produktif. Pemilik kekayaaan yang berada diatas nishab harus membayar zakat setiap tahunnya. Jika kekayaan tidak diinvestasikan secara produktif, maka nilai kekayaan akan turun dari tahun ke tahun hingga mencapai nilai dibawah nishab. Dalam perekonomian Islam dimana riba dilarang, maka penerapan zakat ini  memberi insentif yang kuat bagi pemilik kekayaan untuk melakukan investasi di sektor riil dalam rangka mempertahankan tingkat kekayaan mereka.
    - Penerapan zakat akan membuat permintaan investasi untuk setiap expected rate of return akan selalu lebih tinggi dalam perekonomian Islam dibandingkan perekonomian konvensional. Hal ini terjadi karena dalam perekonomian Islam meminjamkan modal untuk mendapat bunga adalah dilarang, sehingga alternatif bagi investasi riil hanyalah membiarkan modal menganggur. Modal yang menganggur ini akan terkena penalti zakat. Dengan demikian, dalam perekonomian Islam, opportunity cost dari tidak menginvestasikan aset menganggur adalah tarif zakat dikalikan aset yang menganggur tersebut, bukan nol sebagaimana di perekonomian konvensional.
    - Karena zakat dikenakan terhadap keseluruhan kekayaan, tidak hanya terhadap pendapatan, maka selain mempenalti harta yang menganggur, zakat juga secara otomatis mempenalti penggunaan sumber daya di aset-aset yang tidak produktif dan berkembang seperti perhiasan emas-perak, properti mewah dan lain-lain. Dengan demikian, dalam perekonomian Islam dimana zakat diterapkan, akan terjadi investment switching dari investasi di aset-aset yang tidak produktif ke investasi di aset-aset produktif.