• Resesi Ekonomi 2020, Ekonomi Syariah Bisa Apa?

    Resesi Ekonomi 2020, Ekonomi Syariah Bisa Apa?

    Resesi ekonomi bisa disebut juga sebagai perlambatan ekonomi, yakni suatu kondisi yang mencerminkan adanya penurunan Gross Domestic Product (GDP) selama dua kuartal secara berturut-turut atau lebih dalam waktu satu tahun. Jika selama dua kuartal berturut-turut nilai GDP-nya negatif atau di bawah nol (0), negara akan menghadapi resesi ekonomi. Resesi ekonomi tidak dapat diprediksi kapan tepatnya akan terjadi, karena pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu negara dipengaruhi oleh beberapa faktor yakni internal dan juga eksternal negara tersebut yang tidak dapat dikendalikan. Adanya resesi juga dapat menyebabkan penurunan secara drastis pada seluruh aktivitas ekonomi, seperti contoh lapangan kerja, keuntungan perusahaan dan investasi. Resesi atau kemerosotan juga selalu dikaitkan dengan turunnya harga (deflasi) atau meningkatnya harga (inflasi). Kita juga tahu bahwa ekonomi berperan besar dalam perkembangan suatu negara. Suatu negara dapat dikatakan maju jika tingkat pertumbuhan ekonominya tinggi, yang mana hal ini dibuktikan dari nilai GDPnya yang tinggi. Namun, yang perlu dipahami adalah pencapaian pertumbuhan ekonomi suatu negara sendiri dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor, baik dari internal (dalam negeri) ataupun eksternal (global) yang tentunya juga tidak dapat dikendalikan. Oleh karena itu, ada waktunya saat perekonomian dalam suatu negara memiliki masa resesi. Sama halnya dengan gempa bumi, tsunami dan bencana alam lainnya, resesi ekonomi tidak dapat diprediksi secara tepat kapan resesi ini akan terjadi. Lalu apa saja sih indikator suatu negara yang sedang mengalami resesi ekonomi? Indikator bila suatu negara terjadi resesi ekonomi ialah :

    1. Produksi dan Konsumsi Tidak Seimbang

    Namanya ekonomi pasti tidak akan lepas dari aktivitas produksi dan konsumsi. Dua hal ini adalah dasar adanya pertumbuhan ekonomi. Adanya permintaan dan penawaran yang seimbang pastinya tidak akan menjadi masalah bagi perekonomi, namun jika permintaan atau konsumsi tinggi tanpa diikuti penawaran ataupun produksi yang tinggi juga bisa mendatangkan masalah. Kebutuhan jelas tidak dapat terpenuhi. Lalu kebijakan impor bisa jadi diambil oleh pemerintah. Tentunya hal ini akan menurunkan laba perusahaan yang dampak panjangnya bisa berpengaruh pada lemahnya pasar modal.


    2. Perlambatan atau Kemerosotan Ekonomi

    Pertumbuhan ekonomi merupakan ukuran untuk menentukan kondisi ekonomi dalam suatu negara. Apabila pertumbuhan ekonomi mengalami kenaikan yang cukup signifikan, artinya negara tersebut dalam kondisi ekonomi yang baik. Pertumbuhan ekonomi suatu negara bisa dilihat dari GDP-nya. Jika GDP-nya mengalami penurunan dari tahun ke tahun, maka dipastikan pertumbuhan ekonomi dalam sebuah negara mengalami
    kemerosotan atau resesi.


    3. Tingginya Nilai Inflasi

    Inflasi memang kerap kali memberikan hal positif yang kadang dibutuhkan. Namun, inflasi yang terlalu tinggi juga dapat mempersulit kondisi ekonomi, karena meningkatnya harga komoditas yang akhirnya tidak dapat dijangkau oleh masyarakat. Kondisi ini semakin diperparah jika inflasi tidak diikuti dengan daya beli masyarakat yang tinggi. Tidak hanya inflasi, namun deflasi juga dapat berdampak pada resesi. Di mana harga komoditas yang menurun drastis dapat mempengaruhi tingkat pendapatan dan laba perusahaan yang rendah. Karenanya, biaya produksi tidak dapat menutup dan menyebabkan volume produksi menjadi rendah.


    4. Tingkat Pengangguran Tinggi

    Tenaga kerja menjadi salah satu faktor produksi yang memiliki peranan penting dalam menggerakkan perekonomian. Apabila suatu pemerintahan tidak mampu menciptakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat, maka jelas tingkat pengangguran akan terus meningkat. Selain itu dengan peningkatan pengangguran yang terus melonjak, dapat menyebabkan daya beli yang rendah sehingga memicu tindak kriminal. Lalu bagaimana dengan resesi ekonomi global?

    Isu-isu terkait akan adanya resesi global sudah banyak dibahas dan dianalisis sejak tahun 2019 lalu. IMF dan World Bank bahkan juga telah memprediksi adalah perlambatan pertumbuhan ekonomi global. Jauh sebelum pandemi virus COVID-19, resesi global telah diprediksi dimulai dari adanya perang dagang antara Amerika Serikat dan China, Konflik Geopolitik BREXIT, kemudian di awal tahun 2020 juga dunia dihebohkan dengan memanasnya konflik Amerika Serikat dan Iran.

    Perang dagang antara Amerika Serikat dan China tentu dapat mempengaruhi perekonomian secara global, sehingga menimbulkan ketidakpastian global selama beberapa tahun terakhir. Singkatnya, World Bank dan IMF memproyeksi bahwa pertumbuhan ekonomi global tahun 2019 dan 2020 hanya sebesar 3% dan 3,4%. Dan tentunya proyeksi merupakan proyeksi pertumbuhan terendah sejak krisis keuangan global yang melanda dunia. Perang dagang antara Amerika Serikat dan China memicu adanya perlambatan tajam pada sektor manufaktur dan perdagangan global. Selain itu, keluarnya Inggris dari Uni Eropa (BREXIT) bisa jadi mendorong Inggris memasuki resesi ekonomi, yang juga dapat menyebabkan gangguan sectoral di
      Eropa. Resesi ekonomi sebenarnya sudah diprediksi akan terjadi di Inggris, tapi pada kuartal ketiga tahun 2019, Inggris mampu meningkatkan pertumbuhan ekonominya, sehingga berhasil lolos dari resesi atau pertumbuhan ekonomi negatif selama dua kuartal berturut-turut.

    Resesi Ekonomi 2020, Ekonomi Syariah Bisa Apa?

    Kedua, berkaitan dengan persediaan logistic ketika krisis terjadi. Nabi Yusuf sudah mencontohkan bagaimana pengelolaan logistik yang harus dipersiapkan dari hulu ke hilir. Hal ini bisa dimulai dari pembenihan, perluasan area produksi untuk mengamankan stok pangan. Dalam hal ini manajemen stok pangan juga perlu diperhatikan. Peran vital pemerintah diperlukan untuk menjaga volume keluar masuknya bahan makanan agar stok selalu terjaga sepanjang tahun. Dalam kondisi krisis, pemerintah perlu mengambil alih sektor ataupun usaha yang hanya menguntungkan segelintir orang agar mampu melindungi kebutuhan seluruh rakyatnya. Secara sosiologis, hubungan antar manusia seperti tolong menolong dan gotong royong. Masalah ketersediaan bahan pangan dapat diatasi jika semuanya Bersama-sama saling membantu dan peduli. Secara singkat langkah preventif yang diambil oleh Nabi Yusuf antara lain:
    1. Memproduksi gandum secara massal di masa subur,
    2. Menggunakan teknologi panen gandum dengan memetik gandum bersama tangkainya agar memiliki daya simpan yang lama,
    3. Mengadakan pengaturan sistem pembenihan supaya benih dapat ditanam dimusim selanjutnya sehingga benih tetap tersedia,
    4. Manajemen stok pangan yang berkeadilan,
    5. Membudayakan tolong-menolong sesama warga negara yang mengalami kesulitan pangan

    Pelajaran yang bisa diambil dari kisah Nabi Yusuf AS dalam menghadapi resesi ekonomi adalah menganalisis dan mencari solusi atas masalah yang yang terjadi.dan mengelola persediaan logistik dari hulu ke hilir. Lalu apa saja peran ekonomi islam dalam menghadapi resesi ekonomi?

    1. HUTANG: Ekonomi Islam Mengajarkan untuk Menghindari Hutang 
    Berkaitan dengan hutang sendiri, negara yang memiliki banyak hutang akan lebih rentan terhadap adanya krisis ekonomi karena jelas mereka akan kesulitan untuk membayar utang ketika perekonomiannya mengalami perlambatan. Selain itu, bagi pengusaha yang menjalankan bisnisnya dengan modal pinjaman juga akan kesulitan untuk membayar hutangnya, dan tidak menutup kemungkinan mereka juga bisa berhutang lagi untuk menjaga bisnisnya tetap stabil. 

    2. RIBA: Ekonomi Islam Melarang Praktik Riba 
    Tentunya kita tahu bahwa ekonomi dengan sistem fiat money cenderung fluktuatif dan tidak stabil akibat adanya seignorage dan inflasi. Dan uang fiat juga rentan akan adanya krisis. Perusahaan yang menggunakan sistem pinjaman berbasis bunga juga akan menghadapi masalah di tengah krisis dibangdingkan dengan perusahaan atau industri yang menggunakan sistem PLS (Profit and Loss Sharing). 

    3. MAYSIR: Ekonomi Islam Melarang Praktik Maysir dalam Berbagai Bentuk 
    Pasar keuangan yang memperbolehkan adanya spekulasi atau maysir akan lebih rentan terhadap krisis karena investor akan cenderung untuk menginvestasikan uangnya lebih bijak dan menghindari risiko. 

    4. ZISWAF: Ekonomi Islam menganjurkan untuk mengoptimalkan instrument ZISWAF (zakat, infak, dan wakaf) 
    Instrumen ZISWAF sendiri sudah diterapkan sejak zaman Rasulullah hingga kekhilafahan. Tujuan adanya instrument tersebut tidak lain adalah untuk redistribusi pendapatan dan pemerataan social. Pemerataan dalam hal ini bukan berarti semuanya mendapatkan bagian secara rata, tetapi pemerataan dilakukan agar tidak adanya ketimpangan diantara masyarakat, yang mana sebagian masyarakat bisa jadi hamper tidak mampu (tidak memiliki harta) sama sekali sedangkan segelintir lainnya memliki kelebihan harta. Ketimpangan ini jika tidak segera diselesaikan dapat merembet pada masalah politik, budaya maupun keamanan. Dalam kondisi krisis tentunya hal tersebut sangat tidak diinginkan. Semuanya menginginkan kondisi yang stabil dan aman.

    Ketika terjadi krisis pun instrumen keuangan sosial bisa dijadikan sebagai alternatif solusi. Hingga saat ini sudah ada banyak model yang bisa diimplementasikan. Instrumen wakaf memiliki peran penting untuk memberdayakan masyarakat selain zakat, infak, dan shadaqah. Wakaf Sosial bisa dikembangkan untuk kepentingan umat, yang dalam praktiknya tentu tidak mengambil manfaat ataupun keuntungan. Semunya diperuntukkan untuk umat. Namun, yang perlu diingat, nilai wakaf harusnya tetap dan tidak boleh berkurang. Namun, manfaatnya lah yang dapat terus dinikmati. Selain itu, wakaf produktif juga bisa diterapkan dengan tetap memelihara ketetapan asset, tapi keuntungan dari pengelolaan asset wakaf juga bisa diperuntukkan untuk bisnis. Hal ini tentunya juga harus memperhatikan prinsip Islam. Sedangkan infak dan shadaqah bisa digunakan untuk melengkapi zakat dan wakaf untuk memenuhi kebutuhan lainnya.

    5. Regulasi yang berkeadilan: Upaya yang dilakukan pemerintah agar tidak ada pihak yang didzalimi. 
    Dari materi di atas, dapat disimpulkan bahwa Ekonomi Syariah memiliki peran yang besar dalam mengatasi resesi ekonomi. Semoga kita sebagai generasi muda dapat mengambil langkah untuk bersama-sama menyelesaikan permasalahan bangsa.


    Note: Opini ini disampaikan oleh Evi Aninatin Ni’matul Choiriyah selaku Badan Pekerja Nasional FoSSEI sebagai Head of Science Division, FoSSEI 2020. Dimoderatori oleh Nana Sofiana selaku Sekretaris Departemen Public Relation KSEI EkSyS Universitas Negeri Surabaya. Dan sebagai notulen opini ini ialah Rofi’ah Khoirun Nisa selaku Sekretaris Departemen Research and Development KSEI EkSyS Universitas Negeri Surabaya. Terlaksana pada 3 April 2020 Masehi atau Jum’at 9 Sya’ban 1441 Hijriyah pukul 19.00 WIB.